Tinggal setitis saja!
Maut mengintai di tempat
Yang tak seorang pun tahu
Biar seminit aku merasa
Mati tanpa perih
Teh habis segelas sedang malam makin pekat
Maut mengintai di tempat
Yang tak seorang pun tahu
Biar seminit aku merasa
Mati tanpa perih
Teh habis segelas sedang malam makin pekat
Label: Peduli Alam, Penyakit Jiwa Paras Lantai, Puisi
Cinta itu
Mulanya adalah jam yang berdetik
Perlahan detiknya
Bagai dakwat yang menyelinap keluar
Dari pena
Ia juga seperti ledakan kentut
Menyengat ke kepalamu lembut
lembut
Mulanya adalah jam yang berdetik
Perlahan detiknya
Bagai dakwat yang menyelinap keluar
Dari pena
Ia juga seperti ledakan kentut
Menyengat ke kepalamu lembut
lembut
Label: Penyakit Jiwa Paras Puncak, Puisi
Bapak...
jika doaku sampai
cukup kirimkan aku senyuman
selamat tinggal bapak
esok jika aku dapat pulang
akan kujenguk makam mu
aku janji..
aku tidak akan menangis lagi
jika doaku sampai
cukup kirimkan aku senyuman
selamat tinggal bapak
esok jika aku dapat pulang
akan kujenguk makam mu
aku janji..
aku tidak akan menangis lagi
Label: Hari Indah, Penyakit Jiwa Paras Puncak, Puisi
Setan mendengar puisi....
dari menunduk
hingga tersedu
"Apa yang dibaca penyair hingga setan menangis?"
dari menunduk
hingga tersedu
"Apa yang dibaca penyair hingga setan menangis?"
Label: Hari-hari, Penyakit Jiwa Paras Puncak, Puisi
Ada jalan liku-liku menuju ke rumahmu
ada kereta-kereta bendang deras
mengejar pelangi
Syukur selamat..
ada kereta-kereta bendang deras
mengejar pelangi
Syukur selamat..
Label: Hari Indah, Penyakit Jiwa Paras Puncak, Puisi
Terima kasih buat garis bisa
Bahkan garis-garis bisa buat aku kian lurus
Bahkan garis-garis bisa buat aku kian lurus
Label: Penyakit Jiwa Paras Lantai, Puisi
Tiada nyawa yang tak merindukan sebuah rumah
bahkan jika rumah hanya ada dinding kertas
Tiada rumah yang tak merindukan ibu yang murah berkah
bahkan jika ibu hanya tinggal dalam bingkai foto yang mula kusam
Lebih baik punya ibu dari punya rumah gedeh
kata temanku yang konon baru empat rumahnya
namun susuk ibunya belum juga ia temukan
Kataku, lebih baik punya keduanya
entah mengapa air matanyanya leleh perlahan
p/s: Selamat hari ibu
bahkan jika rumah hanya ada dinding kertas
Tiada rumah yang tak merindukan ibu yang murah berkah
bahkan jika ibu hanya tinggal dalam bingkai foto yang mula kusam
Lebih baik punya ibu dari punya rumah gedeh
kata temanku yang konon baru empat rumahnya
namun susuk ibunya belum juga ia temukan
Kataku, lebih baik punya keduanya
entah mengapa air matanyanya leleh perlahan
p/s: Selamat hari ibu
Label: Hari Indah, Ibu, Puisi
Waktu yang rapat ini sering menyeksa
Baju yang sebelumnya harum,
mendadak terasa tengik dibahagian ketiak
Tiba-tiba terasa melintir dikelengkang
"Tadi malam kau yang cukur bulu ketiakmu,
sekarang kau cari-cari potongan bulumu?"
"Apa kau mahu sisa bulu lain tumbuh liar diketiakmu?"
Baju yang sebelumnya harum,
mendadak terasa tengik dibahagian ketiak
Tiba-tiba terasa melintir dikelengkang
"Tadi malam kau yang cukur bulu ketiakmu,
sekarang kau cari-cari potongan bulumu?"
"Apa kau mahu sisa bulu lain tumbuh liar diketiakmu?"
Label: Hari-hari, Penyakit Jiwa Paras Puncak, Puisi
Negeri Tasik Merah,
negeri terkaya dengan sejarah
dan negeri..
.
.
.
.
.
.
terkaya dengan lampu isyarat!!!
p/s: negeri yang paling ramai pemandunya gemar menyucuk-nyucuk :)
negeri terkaya dengan sejarah
dan negeri..
.
.
.
.
.
.
terkaya dengan lampu isyarat!!!
p/s: negeri yang paling ramai pemandunya gemar menyucuk-nyucuk :)
Label: Hari-hari
